Minggu, 26 September 2010

Spiritualitas bagi Orang Sakit

JAKARTA, KOMPAS.com — "Manusia tidak akan binasa oleh penderitaan. Namun, ia dibinasakan oleh penderitaan yang tanpa makna." (Victor Frankl)

Gaya hidup sehat belum menjadi milik semua orang. Akibatnya, berbagai penyakit mengakrabi sebagian dari kita. Betapa banyak penyakit yang populer saat ini, seperti tekanan darah tinggi, stroke, jantung, diabetes, hepatitis, demam berdarah, cacar air, gagal ginjal, kanker, HIV/AIDS, dan flu burung.

Belum lagi penyakit-penyakit langka, seperti burger’s disease yang diderita oleh Danny Hoffmann (pelatih bulu tangkis) atau multiple sclerosis (MS) yang diderita oleh "Pepeng" Soebardi, dan sebagainya.

Sakit adalah konsep abstrak yang menunjuk adanya sensasi luka yang sifatnya pribadi (privat, personal) atau suatu stimulus berbahaya yang saat ini atau pada masa mendatang merusak jaringan tubuh.

Akibat dari stimulus sakit itu tentu saja tidak nyaman. Khususnya pada penderita penyakit akut, biasanya mereka mengalami perasaan-perasaan negatif, seperti gelisah, bingung, tidak nyaman, dan menjadi sensitif.

Dalam kesempatan wawancara yang dilakukan oleh penulis terhadap beberapa orang yang pernah sakit serius (dirawat di rumah sakit), muncul berbagai ungkapan yang menunjukkan gambaran perasaan yang menyertai sakitnya itu.

Salah seorang mengatakan, "Orang sakit itu kan bukan hanya fisiknya. Seperti orang stroke itu bukan hanya fisiknya, tetapi ditambah lagi perasaan minder."
Yang lain bilang, "Orang kalau sakit itu seakan-akan sakitnya paling hebat. Butuh dilayani...."

Yang lain lagi mengatakan, "Orang sakit itu hatinya semakin peka, perasaannya peka." Ada yang sekadar mengatakan, "Sakit itu kan enggak enak…." Selebihnya mengatakan, "Yang aku inginkan adalah bagaimana perasaanku bisa tenang."

Pengalaman subyektif
Sakit merupakan pengalaman subyektif yang sulit dimengerti oleh orang lain, termasuk perawat. Hal ini digambarkan Copp (Baylor, 1982) dari hasil surveinya. Ia melaporkan, banyak pasien merasa bahwa para perawat tidak peduli terhadap respons sakit pasien.

Peneliti lain, Taylor, menyatakan bahwa pasien di rumah sakit menunjukkan gejala-gejala psikologis, terutama kecemasan dan depresi, sehingga tidak menutup kemungkinan kondisi psikologis ini justru akan memperparah sakit mereka.

Petrie (Baylor, 1982) melihat kenyataan adanya berbagai persepsi mengenai pengalaman sakit, ia mengembangkan gagasan membedakan individu sebagai augmenters atau reducers.

Augmenters adalah orang yang membesar-besarkan pengalaman sakit dan sebaliknya reducers adalah orang yang menganggap ringan pengalaman sakit. Perawat ataupun pasien, ada yang termasuk augmenters, ada yang reducers.

Kombinasi augmenters dan reducers pada perawat dan pasien dapat menghasilkan komplikasi dalam menjajaki dan menangani pasien dengan pengalaman sakit.
Meski umumnya kondisi sakit dirasa tidak menyenangkan, banyak pasien yang melaporkan bahwa pengalaman sakit dapat bernilai atau merupakan peristiwa yang bermakna.

Baylor mengutip pandangan seorang humanis, Joyce Travelbee, bahwa sakit dan penderitaan dapat menjadi aktualisasi diri jika seseorang dibantu untuk menemukan makna dalam pengalaman sakitnya.

Kok bermakna?
Banyak kisah sedih mengenai orang sakit. Khususnya mereka yang mengalami penyakit bertahun-tahun, penderitaan itu tentu dirasa tak kunjung selesai. Selain ada rasa sakit, ketidaknyamanan juga terjadi karena aktivitas fisik dan mental terhambat. Belum lagi jika kehilangan pekerjaan, kehilangan bagian tubuh tertentu karena penyakit diabetes, burger’s disease, dan sebagainya.

Tak jarang pasien putus asa hingga bunuh diri. Namun, kita pun tahu ada orang-orang yang mampu bertahan dan tetap optimistis menghadapi penyakit berat. Sungguh kita pantas memberikan acungan jempol, bahkan standing ovation.

Pentingnya spiritualitas
Spiritualitas adalah kata kunci yang membuat seseorang menemukan makna hidupnya. Tidak ada definisi yang mutlak untuk spiritualitas. Meski begitu, seorang penulis pada jurnal kesehatan di Inggris mencoba merangkum esensi spiritualitas dalam konteks kesehatan sebagai berikut:

"Spiritualitas adalah suatu kualitas yang melebihi afiliasi religius, yang membangkitkan inspirasi, penghormatan, perasaan kagum, makna, dan tujuan…. Dimensi spiritualitas meliputi usaha untuk menjaga harmoni dengan alam semesta dan berusaha keras menemukan jawaban-jawaban atas sesuatu yang tak terbatas dan menemukan fokus ketika seseorang menghadapi tekanan emosional, sakit fisik, dan kematian." (Foster, 2005).

Spiritualitas berkaitan erat dengan komitmen religius. Sejumlah studi menemukan kaitan antara komitmen religius dan keadaan tak sehat (morbidity, mortality) pada pasien dengan berbagai penyakit.

Di antara orang yang lebih sering mengunjungi tempat berdoa, jumlah kematian lebih sedikit dibandingkan yang tidak pernah mengunjungi tempat pelayanan doa (Puchalsky, 2001). Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas atau komitmen religius sangat bermanfaat untuk kesehatan penderita sakit.

Puchalsky, praktisi dari George Washington University Medical Center, juga mengemukakan adanya hasil survei yang menunjukkan bahwa spiritualitas sangat penting bagi pasien. Kebanyakan pasien menginginkan dokter yang merawat mendiskusikan tentang keyakinan spiritual dengan mereka.

Hasil survei tersebut tampak sesuai dengan kenyataan. Banyak orang yang justru menemukan makna hidupnya melalui pengalaman sakit. Hal tersebut tampaknya terjadi karena mereka yang sakit, seperti halnya orang lain yang sedang menghadapi penderitaan atau kesulitan hidup lainnya, membutuhkan jawaban atas kondisi mereka yang terbatas. Mereka merindukan jawaban atas masalah yang tidak sanggup dihadapi sendiri dengan keterbatasannya.

Menemukan fokus
Dalam kondisi tak seimbang dengan penyakit yang diderita, seseorang dihadapkan pada kenyataan untuk menjaga harmoni dengan alam semesta, berusaha keras menemukan jawaban atas sesuatu yang tak terbatas, dan menemukan fokus ketika menghadapi tekanan emosional, sakit fisik, dan kematian.

Dari sini akhirnya lahirlah inspirasi, perasaan hormat dan kagum akan kehidupan, perasaan akan makna dan tujuan. Itulah spiritualitas yang berkembang dalam keadaan sakit!

Mengapa mereka berhasil menemukan spiritualitas semacam itu? Satu hal yang perlu disimak dalam kisah para tokoh publik di atas ialah bahwa dalam ketidakberdayaan itu mereka menemukan cinta yang sangat besar, terutama dari orang-orang terdekat, dan juga perhatian dari orang-orang lain yang mengenal mereka.

Cinta inilah yang merupakan sumber spiritualitas mereka. Cinta inilah yang memberikan inspirasi bagi mereka untuk tetap bertahan hidup, menemukan kekuatan, makna, dan tujuan.

Pada akhirnya kita dihadapkan pada pertanyaan: bagaimana nasib mereka yang tidak mendapatkan cinta sebesar itu? Mereka berharap dapat menemukan spiritualitas dari para dokter atau orang lain yang merawatnya.

Ketika tak ada jawaban dari mereka, mari kita berusaha lebih solider dengan mereka yang sakit dalam keadaan terpencil, kesepian, tanpa orang lain yang mengasihi. @

M.M Nilam Widyarini M.Si
Kandidat Doktor Psikologi

http://health.kompas.com/read/2010/03/16/09184599/Spiritualitas.bagi.Orang.Sakit

Kekuatan Sebuah Doa


Anda percaya akan kekuatan doa? Ketika rasa putus asa dan kepedihan datang menghampiri, tidak sedikit orang yang akan berdoa dengan harapan mendapatkan ketenangan sehingga dapat mengatasi segala tekanan serta masalah yang dihadapi.

Dan ternyata, doa tak hanya akan menyembuhkan secara spiritual saja, menurut Dr.Somporn Kantharadussadee Triamchaisri, Ketua Departement of Public Health Nursing, Faculty of Public Health di Mahidol University, Thailand, berdoa juga mampu meningkatkan kesehatan secara fisik. Dan pernyataan ini tidak ada kaitnya dengan alasan supernatural, tapi berdasarkan fakta. “Berdoa adalah salah satu bentuk meditasi. Meditasi bisa menjadi senjata yang ampuh dalam menjaga fisik dan mental kita.

Sejak tahun 1930, para ilmuwan sudah meneliti pengaruh doa terhadap jantung dan gelombang otak. Dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun terakhir, sudah ada banyak studi yang memantau praktek meditasi dalam berbagai agama, seperti Hindu, Budha, dan Islam.

Dr. Andrew Newberg, profesor di bidang radiologi, psikologi, dan studi religi di University of Pennsylvania dan salah satu pendiri Penn’s Center for Spirituality and the Mind, juga menggungkapkan, “Ilmu pengetahuan telah berhasil membuktikan, agama benar-benar dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan.”

Para ahli menemukkan ketika tubuh dan pikiran berjalan dalam sebuah harmoni yang baik, hasilnya kita akan mendapatkan keseimbangan tubuh serta sel-sel saraf. Disamping apapun motif yang ada di belakang alasan kenapa orang berdoa, namun tidak ada penyangkalan bahwa banyak orang yang akan tetap melakukannya. Sebuah studi menunjukkan 36% orang menggunakan obat pengganti atau alternatif, dan angka tersebut meningkat dua kali lipat ketika doa dimasukkan.

Para relawan melakukan doa demi kesehatan pribadinya dan untuk menolong orang lain. Plus, dari mereka yang berdoa untuk alasan kesehatan, 70% menyatakan bahwa doa sangat membantu.Mengapa bisa begitu? Mungkin hal tersebut terjadi karena beberapa mekanisme yang berbeda, seperti :

1. Berdoa membuat relaks.
Apapun agama yang kita anut, berdoa merupakan salah satu bentuk meditasi. Selain akan memperlambat napas dan kerja otak, berdoa juga akan mengurangi detak jantung serta tekanan darah. Itu semua akan membuat kita relaks, jelas Dr. Mehmet OZ, direktur dari Cardiovascular Inst. Di New York dalam situsnya aks.droz.com.

2. Berdoa memberikan aura positif. Ketika dan setelah berdoa, biasanya kita akan merasa damai, tenang, dan bahagia. Dan ini merupakan bukti, bahwa berdoa akan memicu munculnya respon psikologis yang positif. Tingkat hormon stres kita juga akan ditekan dan siap-siap untuk ‘diam’. Hal yang paling penting, doa juga mampu menjaga sistem kekebalan tubuh kita.

Setelah satu bulan penuh diingatkan untuk tidak melupakan ritual berdoa, sebaiknya selepas Ramadhan dan seterusnya, kita tetap dapat menikmati syahdunya berdoa. Selamat beribadah dan menikmati manfaat doa bagi kesehatan spiritual dan fisik kita. (PreventionIndonesiaonline/Astrid Anastasia)

http://health.kompas.com/read/2010/09/23/16105718/Kekuatan.Sebuah.Doa

Senin, 20 September 2010

CANDU GAMES (06 Februari 2010)

Laporan: Riri Wijaya

[''Parenting'' Sabtu, 09.00-11.00 WIB]

Psikolog Nanang Suprayogi dari Binus University mengajak kita mencermati perilaku Candu Games yang kian merebak dikalangan remaja. Sebenarnya sejak dahulu kala yang namanya games dilakukan banyak orang, Seperti nenek dan kakek yang bermain dengan cucunya, orang tua bermain games dengan anaknya dan ini dilakukan secara tradisional.

Pada perkembangannya, games mengikuti kemajuan teknologi dan lebih marak melalui alat berupa, nintendo, PS sampai games online. Jika waktunya terukur, menurut nanang, games dapat menjadi perangsang motorik menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Bahkan jika kreatif, pemain games ini bisa menciptakan games jenis baru dan bisa menjadi sumber income. Ujarnya.

Sayangnya mereka yang tidak bisa mengendalikan diri akan terbuang waktunya dan tidak produktif seharian Nge-Games, ada yang sampai meninggal dunia karena tak lacarnya aliran darah dan tidak makan, tidak tidur, terus saja asyik dengan gamesnya. Remaja harus diberi pengertian agar lebih bisa mengatur waktu dan tidak hanya bermain games semata.

http://www.dradio1034fm.or.id/detail.php?id=6178

MENYIKAPI UN DAN UJIAN SUSULAN (27 Februari 2010)

Laporan: Riri Wijaya

[''Parenting'' Sabtu, 09.00-11.00 WIB]

Menurut Nanang Suprayogi dari Binus University ada beberapa hal bisa dijadikan evaluasi dari pelaksanaan UN tahun ini dimana tingkat kelulusannya menurun dibandingkan tahun lalu baik SMP maupun SMA. Hal ini mungkin saja terjadi karena standart nilai kelulusan yang meningkat atau tenaga pengajar yang ada disekolah tersebut kurang kualified sehingga ada yang 100% tidak lulus.

Belum lagi keluhan kenapa justru anak pintar yang tidak lulus? terkait ini kak Nanang mengatakan mungkin saja anak tersebut pintar untuk bidang fisika tapi tidak dibidang lainnya sehingga sangat mungkin kalau yang bersangkutan tidak lulus.

Kesiapan mental, psikologis, materi perlu dilakukan, sekolah perlu mempersiapkan jangan sampai anak diuji dari pelajaran yang belum pernah diberikan materinya, pencerahan spiritual perlu dilakukan termasuk dirumah dengan support orangtua.

Pemerintah dan media menurut Nanang jangan bikin ketegangan dengan informasi kegagalan tahun lalu atau pressur menjelang ujian nasional, isi informasi harusnya berupa himbauan menenangkan sehingga anak tidak takut.

Pasca ujian penting diperhatikan, seandainya anak gagal pada ujian jangan diperkeruh dengan omelan, dampingi saja dan support secara psikologis dengan menyemangati agar belajar lebih serius dan berhasil dalam ujian ulangan nanti.

http://www.dradio1034fm.or.id/detail.php?id=6467

Menakar diri lewat lagu

Menakar diri lewat lagu

Industri music di Indonesia saat ini mengalami kemajuan yang sangat berarti. Banyak bermunculan artis-artis baru dan langsung mendapatkan tempat di hati para penggemarnya. Mereka muncul dan eksis baik dalam grup maupun individu yang bersolo karir.

Para artis senior maupun artis-artis pendatang baru banyak meramaikan blantika music di Indonesia. Warna musiknyapun semakin beragam, kombinasi-kombinasi music tercipta. Lahirlah karya-karya kreatif anak bangsa.

Banyak yang mendapatkan keuntungan dari kemajuan music ini, dari mulai artis, manajemen artis, provider RBT, hingga para pedagang asongan yang menjajakan CD/VCD MP3 lagu terbaru atau terhits mereka.

Keuntungan secara materi diraup, keuntungan secara polularitas didapat. Mereka seperti mendapatkan tunggangan kendaraan menuju puncak popularitas melalui kreasi mereka dalam lagu, dan yang lebih mengagumkan mereka mampu meraihnya dalam waktu yang singkat.

Banyak tercatat, band-band yang relative baru, namun sudah dapat bertengger di jajaran artis ternama, nama mereka menghias di Koran-koran, majalah, dan sering mucul di TV, radio dan media elektronik lainnya. Mereka begitu popular. Memiliki banyak penggemar.

Lagu-lagu mereka begitu melekat di masyarakat. Tidak hanya kalangan dewasa, remaja, namun menembus batas hingga lintas generasi. Kita sering melihat ternyata lagu-lagu mereka dinikmati juga oleh anak-anak, dan bahkan dapat menghapalnya dengan perasaan penuh bangga.

Penulis sering mendapati anak-anak kecil banyak yang menyanyikan lagu-lagu yang seharusnya untuk usia diatas mereka. Bukankah anak-anak akan lebih pantas dan lebih tepat menyanyikan lagu anak-anak dengan conten syair lagu yang menggambarkan kehidupan anak, dibandingkan menyayikan lagu tentang percintaan atau bahkan lebih buruk lagi tentang perselingkuhan .

Sering kita lihat anak-anak kecil yang sesungguhnya mereka belum tahu benar tentang syair lagu yang dinyanyikannya namun dapat dengan fasih melantunkannya. Bahkan rengekan anak-anak pada orangtuanya, salah satunya adalah meminta untuk dibelikan CD lagu-lagu dari artis atau grup band yang sedang menjadi trend.

Padahal anak-anak berhak untuk menikmati dan menyanyikan lagu-lagu anak-anak sesuai dengan usia mereka, namun mereka terbawa arus popularitas lagu yang menyebar luas di masyarakat.

Sekarang mari sejenak kita perhatikan dengan seksama lagu-lagu yang beredar dan mendapat perhatian luas masyarakat. Ternyata banyak lagu-lagu yang memiliki syair yang menggoda, nakal dan secara tidak disadari ternyata mengajak untuk nakal.

Sebutlah lagu yang sekarang sedang menjadi trending topic di berbagai media, syairnya demikian .

Dasar kau keong racun… Baru kenal eh ngajak tidur … Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung…

Eh ku takut sekali… tanpa basa basi kau ngajak happy happy…
Eh kau tak tahu malu….Tanpa basa basi kau ngajak happy happy

Entah mengapa syair lagu yang seperti itu ternyata dapat menyebar luas dimasyarakat, bahkan menjadi trend topic di media.

Istilah jablay, sebuah istilah baru yang dimunculkan lewat lagu juga menjadi terkenal dan bahkan sepertinya sudah menjadi bagian dari perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia. Berikut petikan syair lagunya :

Waktu tamasya ke binaria…Pulang-pulang ku berbadan dua
Meski tanpa restu orang tua, sayang … Aku rela abang bawa pulang

La lai la lai la lai… Panggil aku si jablai… Abang jarang pulang…Aku jarang dibelai

Ada juga istilah kucing garong yang juga menjadi popular dengan syair lagu yang juga menggambarkan kenakalan seorang pria.

Di luar lagu dangdut, kita juga temui syair-syair lagu lain yang isinya hampir serupa, misalnya lagu tentang poligami, berikut petikan syairnya : …Istri tua merajuk… Balik ke rumah istri muda…Kalau dua dua merajuk… Ana kawin tiga… Mesti pandai pembohong… Mesti pandai temberang…

Pada lagu yang lain juga kita dapati tentang kisah orang yang memiliki banyak simpanan, berikut petikan syairnya : …Satu pasangan tak cukup… Dua simpanan juga tak cukup…emang dasar emang dasar..
Eh dasar kamu baji****

Lagu-lagu yang sudah lampau yang dulunya juga popular juga memiliki syair yang serupa, salah satunya kisah tentang remaja Surti Tejo. Berikut petikan syairnya: …Jemari Tejo mulai piknik dari wajah, sampai lutut surti…Tanpa sadar sarung merekapun jadi alas…Mirip demo memasak Tejo mulai berakting di depan Surti… Masang.. alat.. kontra*****

Lagu lain yang juga dipopulerkan oleh grup band yang sama bersyair sebagai berikut: Putri, sayang tubuhmu koq digratisin…..Hanya untuk kejar satu kata… Biar di bilang ...sexi.

Ada lagi lagu yang menggambarkan tentang kisah cinta satu malam yang menurut penulis isi syairnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai budaya yang kita anut. Berikut petikan syairnya: …Cinta satu malam…Oh indahnya…Cinta satu malam…Buatku melayang…Walau satu malam…Akan selalu ku kenang…Dalam hidupku

Ada juga lagu yang begitu popular yang menggambarkan tentang aktifitas orang yang lebih suka tidur dari pada bekerja. Berikut syairnya: Bangun tidur, tidur lagi… Bangun lagi, tidur lagi…Bangunnnn, tidur lagi

Ada lagi syair lagu yang menceritakan tentang perselingkuhan. Berikut syairnya: Kurasakan pudar dalam hatiku… Rasa cinta yang ada untuk dirimu…Kulelah ingin semua yang ada… Ingin ku lepas semua
Setan dalam hati ikut bicara… Bagaimana kalo ku selingkuh saja…Ku punya banyak temen lelaki… Sepertinya ku kan bahagia

Penelitian Masaru Imoto

Seorang peneliti ternama dari negeri Jepang Dr. Masaru Imoto, membeberkan hasil penelitiannya bahwa kata-kata atau kalimat yang disampaikan berulang-ulang akan memberikan dampak yang luar biasa. Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama dengan tekun melakukan penelitian pada Air. Air murni dari mata air di pulau Honshu diberikan kata-kata yang positif, lalu didinginkan sampai -5 derajat Celcius di laboratorium, kemudian difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air membentuk kristal persegi yang indah, harmonic dan utuh. Sementara pada air yang diberikan kata-kata negative kristal air yang terbentuk memperlihatkan gambar yang rusak, kacau dan tidak utuh.

Dalam bukunya ” The Hidden Message in Water”, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau CD. Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain.

Temuan ini menjelaskan betapa kata-kata yang didengar akan membekas dan berefek luar biasa. Padahal menurut biologi, komposisi tubuh manusia 75% berupa air. Itu artinya diri kita akan merespon sesuai dengan kata-kata yang sering kita dengarkan. Demikian juga diri kita akan merespon sesuai dengan lagu-lagu yang sering diperdengarkan.

Syair-syair lagu itu ternyata dapat menghipnotis. Tengoklah lagu-lagu perjuangan yang sering dikumandangkan pada masa perang kemerdekaan. Syair-syair lagu tersebut mampu memompa semangat para pejuang dan bahkan dapat memberi energy yang luar biasa. Hanya dengan persenjataan yang sangat terbatas mampu mengalahkan pihak musuh yang memiliki persenjataan lebih modern.

Atau lagu-lagu religi yang juga mampu menembus relung hati, membuat pendengarnya merasa tersentuh dan tergugah. Lagu-lagu tersebut mampu memberi inspirasi dan pencerahan.

Hal ini hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Para pencipta lagu, para artis, para pendengar, termasuk juga masyarakat. Janganlah kita terbuai dengan tontonan dan lantunan lagu-lagu tertentu yang ternyata memberi efek yang tidak baik terhadap diri.

Ada lagu yang penulis dengar dan nikmati ternyata memberi efek positif dan dapat memberi semangat hidup berikut petikan syairnya :

Tak ada manusia…Yang terlahir sempurna…Jangan kau sesali…Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah…Dapatkan cobaan yang berat…Seakan hidup ini…Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada… Hidup adalah anugerah…Tetap jalani hidup ini…Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan… Kebesaran dan kuasanya…Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa…Jangan menyerah (6x)

Pilihan lagu-lagu begitu banyak bertebaran, tinggal kita yang memilihnya. Marilah menakar diri lewat lagu.

Nanang Suprayogi

Dosen Psikologi

MEMBIASAKAN ANAK MEMINTA MAAF

BAGAIMANA CARA UNTUK MEMBIASASKAN ANAK UNTUK MEMINTA MAAF? 1. Biarkan emosi anak mereda Anak biasanya marah, kecewa, tidak suka dengan suatu...