Sabtu, 05 Januari 2013

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS & MPK 2011
Thursday, October 13, 2011
 “Interupsi pimpinan sidang, saya kurang sependapat dengan pasal tersebut”, begitulah suasana salah satu acara LDK OSIS dan MPK 2011 yang kali ini dirancang menggunakan teknik persidangan. LDK OSIS & MPK yang diselenggarakan oleh Edu Support bekerjasama dengan pembina OSIS Secondary berlangsung pada tanggal 7-8 Oktober 2011 ini mengangkat tema “Membangun Kematangan Berorganisasi”.
Tujuan LDK adalah memberikan bekal berupa pengetahuan dan ketrampilan bagi para calon pengurus OSIS dan MPK agar dapat berorganisasi dengan baik dan efektif. Agenda besar LDK tahun ini adalah membuat program kerja OSIS dan membuat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Untuk Rancangan AD-ART yang merumuskan adalah Majelis Perwakilan Kelas (MPK). AD- ART ini nantinya akan menjadi acuan bagi OSIS untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya. Para peserta antusias mengikuti acara ini, terutama saat pengenalan teknik persidangan. Mereka juga dikenalkan dengan sidang komisi dan sidang pleno.
Sesi “Pemimpin dan Kepemimpinan” disampaikan oleh Bapak Nanang Suprayogi, M.Psi. Kekompakan sebagai pengurus OSIS diuji pada hari kedua melalui kegiatan outbound di Pelita Desa. Semoga kegiatan LDK dapat memberikan bekal bagi kematangan berorganisasi para siswa kita. Terima kasih banyak untuk semua pihak yang telah membantu menyukseskan acara LDK tahun ini. 

http://www.madania.net/news.php?grup=news&menu=view&id=477

Seberapa Besar Resiliensi Anda ?

Seberapa Besar Resiliensi Anda ?
Hidup tidak selamanya menyenangkan. Dan tidak semua orang menyikapi pengalaman yang tidak menyenangkan dengan perilaku yang positif, cederung menyikapi dengan perilaku dekstrutif karena tidak bisa menerima kondisi buruk tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidup, bahkan larut di dalamnya, tidak mau bangkit ke kondisi semula. Istilahnya, orang tersebut kurang memiliki resiliensi. Resiliensi diartikan sebagai kemampuan individu dalam mengatasi, melalui, dan kembali pada kondisi semula setelah mengalami kesulitan. Asumsi dasar resiliensi adalah bahwa dalam menghadapi suatu kesulitan atau tantangan, ada individu yang berhasil mengatasinya dengan baik dan ada juga yang tidak berhasil. " , ujar Debora Basaria,M.Psi, pengajar Fakultas Psikologi Universitas Bunda Mulia.

Hal senada diungkapkan oleh Muhamad Nanang Suprayogi, M.Psi, pengajar Falkutas Psikologi Binus University. " Dalam dunia psikologi, resiliensi menggambarkan kemampuan seseorang, kelompok atau masyarakat untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan menghilangkan dampak negatifdari kondisi yang tidak menyenangkan. Dengan kata lain  kemampuan individu untuk tetap teguh dan beradaptasi dalam keadaan sulit."

Resiliensi diperlukan agar individu mampu bertahan dan pulih dari situasi negatif secara efektif, tidak larut dalam masalahnya, mampu mengendalikan diri dan akhirnya mampu mengatasi masalah dengan baik. Kalau memiliki resiliensi yang baik, ia tidak akan larut dalam masalah, namun dapat keluar dari masalah sebagai seseorang pemenang. Individu yang memiliki resiliensi yang baik tidak akan emosional dalam menghadapi masalah. Bagi kehidupan secara umum, resiliensi dapat membantu menciptakan masyarakat yang damai saling menghargai. Resiliensi sangat penting untuk diaplikasikan mengingat saat ini kita sering melihat mudahnya masyarakat terpancing emosinya dan mudah pula berprilaku anarkis, padahal itu hanya terpicu oleh masalah yang sepele.

Debora mengatakan resiliensi merupakan kunci sukses dalam hidup. " Karena hidup ini penuh tantangan dan cobaan. Tidak selalu semuanya berjalan sesuai keinginan. Ketika tantangan dan cobaan atau pengalaman negatif dialami, individu dengan resiliensi yang baik akan mampu bangkit dan berjalang melangkah ke masa depan. " Setiap individu sebaiknya mempertimbangkan perkembangan daya lenting atau resiliensi demi kesuksessan dalam hidup.Namun, pada kenyataannya banyak orang justru secara emosi dan secara psikologi tidak siap mengatasi kemalangan. Mereka cenderung bersikap menyerah dan merasa tidak berdaya.


http://motivator-hidup.blogspot.be/2012/09/seberapa-besar-resiliensi-anda.html

MEMBIASAKAN ANAK MEMINTA MAAF

BAGAIMANA CARA UNTUK MEMBIASASKAN ANAK UNTUK MEMINTA MAAF? 1. Biarkan emosi anak mereda Anak biasanya marah, kecewa, tidak suka dengan suatu...