Sabtu, 29 Januari 2022

TOLERANSI

        Tahukah mengapa Tuhan menciptakan umatnya beragam? Tahukah mengapa Tuhan menciptakan umatnya dengan berbagai suku, bangsa, dan bahasa. Mengapa Tuhan tidak menciptakan semua umat di dunia ini dalam satu golongan, satu bangsa, satu Bahasa. Ternyata Tuhan memiliki maksud dan tujuan yang sangat luar biasa, kita diajak untuk mengenali beragam Bahasa, beragam adat istiadat, berbagai kebiasaan yang itu justru akan memperkaya pengetahuan kita. namun, untuk bisa mencapai tersebut, hanya satu kuncinya, yaitu kita harus saling menghargai. Kita harus saling bertoleransi, menghargai keragaman, menghargai perbedaan, bertoleransi kepada mereka semua, itu merupakan kunci agar kita bisa saling mengenal dan saling belajar. Karena Tuhan memang menciptakan manusia dengan segala keragamannya, pola pikir yang beragam, pendapat yang berbeda-beda, maka kalau kita memaksakan hal tersebut untuk sama, maka kita melampaui kehendak Tuhan.

            Sederhana saja, misalnya dalam sebuah diskusi, kalua semua orang berpendapat yang sama, maka dimana letak kemajuan, kreativitas dan inovasi itu akan terjadi, itu semua terjadi karena adanya keberagaman pikiran dan ide, disitulah hikmah Tuhan menciptakan kita dengan keberagaman. Keragaman itu laksana warna-warni yang ada di dunia ini. Kita lihat tumbuhan ada yang berwarna hijau, coklat dan lainnya, juga terdapat bunga yang berwarna merah, putih, kuning dan sebagainya. Warna-warna itulah yang membuat alam semesta ini menjadi indah. Karena itu perbedaan-perbedaan yang ada di dunia ini adalah suatu keindahan dan rahmat yang harus kita syukuri. Kalau kita memaksakan warna yang ada di dunia ii hanya satu warna, betapa sangat membosankan dan tidak enak dipandang sama sekali.

Keragaman yang ada janganlah membuat kita bercerai-berai dan bertikai, namun kita jadikanlah kesempatan untuk saling meningkatkan kebersamaan dan pengetahuan. Disitulah dibutuhkan saling menghargai, saling bertoleransi. Toleransi adalah salah satu kunci utama agar kita bisa hidup bersama dalam masyarakat majemuk. Toleransi adalah kunci utama yang harus diterapkan oleh semua warga masyarakat agar kita semua bisa menikmati semua keragaman ini dengan maksimal.



Selasa, 25 Januari 2022

KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

  Filosof Yunani terkemuka, Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah “zoon politicon” maksudnya manusia adalah makhluk yang bermasyarakat. Manusia diciptakan oleh yang Maha Kuasa, tidak hanya untuk hidup sendiri tetapi juga hidup bermasyarakat. Manusia tentu tidak bisa hidup dan memenuhi kehidupannya dengan dirinya sendiri, manusia tidak punya kekuatan untuk memenuhi kehidupannya sendiri, kita membutuhkan bantuan orang lain, untuk makan kita butuh nasi, butuh lauk pauk, butuh minum, butuh piring dan lain sebagainya, apakah semua itu kita produksi sendiri? Tentu tidak, kita membutuhkan banyak bantuan orang lain. Untuk tidak tepat apabila kita hidup menyendiri, ataupun  menghindari pergaulan dari orang lain. Kita harus bergabung dengan masyarakat. Jadi, kita tidak hanya baik untuk diri kita, tetapi kita juga harus baik untuk sekitar kita. kesalehan individu itu penting, namun kesalehan sosial itu juga penting. Kita tidak bisa menjadi diri yang egois, hanya memikirkan untuk diri sendiri, namun kita juga harus memikirkan orang-orang di sekitar kita.





    Sesungguhnya apa yang terjadi pada masyarakat, kita sebagai individu juga akan mengalaminya. Bila terjadi musibah kebakaran, kita juga akan terkena bila kita berada dalam masyarakat tersebut. Bila terjadi musibah kebanjiran, maka kita juga akan terkena apabila kita berada dalam lingkungan tersebut. Karena itu penting bagi kita untuk bergaul dengan masyarakat. Apabila dari kacamata psikologi, kehidupan bermasyarakat merupakan bagian dari Kesehatan jiwa seseorang. Bila seseorang mampu berbaur dengan masyarakat, maka kesehatan jiwa dia lebih sehat dibandingkan dengan orang yang selalu mengucilkan diri dari kehidupan bermasyarakat. Untuk itu mari kita perbaiki diri kita secara individu, dan perbaiki diri kita secara sosial.


Minggu, 23 Januari 2022

BERPKIR POSITIF.

        Sebuah kisah tentang anak kecil yang divonis penyakit kanker stadium lanjut. Dokter sudah mengalami kesulitan untuk melakukan tindakan penyembuhan. Namun terdapat suatu kebiasaan dari anak tersebut, yaitu bermain game star trek yaitu permainan mencari alien-alien yang kemudian ditembaki lalu dibunuh. Semakin sering alien-alien dibunuh maka dia bisa memenangkan permainan tersebut, sang anak bisa melakukan permainan dengan durasi berjam-jam karena dia sangat menyukainya. Dari apa yang sudah dilakukan oleh sang anak, dokter kemudian berpikir “barangkali saya bisa menggunakan kebiasaan sang anak sebagai terapi penyembuhan”. Kemudian dokter mengajak sang anak untuk bermain bersama “nak, ayo kita sekarang bermain star trek, tetapi sekarang star treknya kamu ganti, yaitu cancer-cancer yang ada di dalam tubuh kamu. Kamu bayangkan cancer-cancer itu sebagai alen, kemudian kamu cari dan setelah kamu temukan, langsung kamu tembak cancer itu, setuju?” sang anak dengan semangat menjawab “setuju dok!”. Akhirnya sang anak sserius mencaari dan membayangkan dalam pikirannya mencari cancer-cancer yang berada di sekujur tubuhnya, kemudian Ketika dia merasa sudah menemukan cancernya dia tembaki dan terus menerus hal tersebut dia lakukan setiap hari dengan sang dokter. Setelah melakukan permainan secara bersama dengan sang dote, yaitu dengan membayangi cancer-cancer sebagai alien-alien yang harus ditembakkan, maka dalam periode waktu tertentu, sang anak melakukan pengecekan dalam laboratorium dan yang terjadi adalah cancer-cancer yang ada dalam tubuh anak berkurang.

        Rupanya pikiran-pikiran positif yang dimiliki oleh anak tersebut, mewujud dalam perilaku metabolisme tubuh sang anak. Sang anak yang berpikir positif membayangkan telah membunuh cancer-cancer tersebut menembaki alien-alien, ternyata mewujud dalam tubuhnya, cancer-cancer tersebut semakin lama semakin menghilang. Apabila kita berpikir positif maka itu akan mewujud pada diri kita. Apabila kita berpikir anak berhasil, maka keberhasilan yang akan mewujud pada diri kita. Sebaliknya apabila kita berpikir negatif, maka hal negatif itulah yang akan mewujud kepada diri kita. Jadi, apapun yang kita inginkan, harapkan, dan cita-citakan harus berada dalam pikiran-pikiran positif yang terus menerus kita tanamkan dalam diri dan pikiran kita, secara perlahan dan pasti kita akan memilikinya dan mencapainya. Jika ingin orang lain berpikiran positif terhadap kita, maka kita juga harus berpikir positif kepada orang tersebut. Karena pikiran tersebut akan terkoneksi, apabila kita berpikir negatif dengan mereka, maka mereka pun sebaliknya akan berpikir negatif kepada kita. mari kita awali dari diri kita, semakin kita sering berpikir positif aka diri kita sendiri yang akan menikmatinya. Mari kita senantiasa mengisi diri dan hati kita dengan pikiran-pikiran positif.



Jumat, 14 Januari 2022

HIDUPLAH SEPERTI LEBAH

        Allah SWT menciptakan banyak makhluk di muka bumi ini dan masing-masing ciptaan Allah, memiliki hikmah atas penciptaan-Nya. Salah satunya adalah binatang lebah, apabila kita telusuri,binatang lebah ini sangat unik. Karena keunikannya lebah menjadi salah satu nama surah dalam Al-Quran yaitu An-Nahl (lebah). Keunikan dari lebah adalah ia merupakan binatang yang sangat selektif, ia hanya memilih bunga-bunga terbaik untuk dihinggapi dan kemudian dihirup saripatinya. Ia tidak akan sembarangan, ia tidak memilih bunga-bunga yang tidak bermanfaat. Ia hanya memilih bunga-bunga yang terbaik, karena dia ingin mengisi dirinya dengan hal-hal yang baik. Karena itu yang dihasilkan oleh lebah adalah madu, produk dari lebah yang sangat bermanfaat bagi kita umat manusia. Madu memiliki khasiat yang sangat luar biasa, itu semua karena dihasilkan dari produksi yang bahan bakunya adalah bahan baku pilihan. Jadi, lebah hanya mengkonsumsi saripati yang baik dari bunga-bunga terpilih, kemudian kemudian memprosesnya dan mengeluarkannya menjadi produk yang sangat bermanfaat dan berkhasiat.

        Mari kita belajar dari lebah, kita sebagai manusia hendaklah hanya memilih makanan-makanan yang baik untuk kita konsumsi, agar kemudian diri ini, tubuh ini bisa tumbuh dan berkembang dengan asupan yang baik. Sudah jelas pula diajarkan dalam Al-Quran, kita diperintahkan untuk memakan makanan yang halal dan baik. Kalau kita mengonsumsi makanan yang baik, halal dan sesuai dengan tubuh kita. InsyaAllah kita akan terjaga dan kita juga bisa menghasilkan hal-hal yang bermanfaat bagi orang-orang disekitar kita. Apa yang kita konsumsi, baik makanan, pengetahuan, budaya, dan sebagainya. Apa yang kita baca, yang kita pelajari dalam kehidupan sekitar kita, akan kita proses dalam otak kita, dalam tubuh kita, dan kemudian kita akan mengeluarkan sebagaimana apa yang kita dapatkan.

        Oleh karena itu, mari kita pilih apa yang layak untuk dimakan, mari kita pilih apa yang layak untuk dibaca, mari kita pilih apa yang layak untuk dikonsumsi, agar tubuh kita bisa menghasilkan sesuatu yang baik, yang bermanfaat bagi sekitar. Jangan kalah dengan lebah, lebah bisa memilih yang terbaik kemudian menghasilkan yang terbaik. Kita juga harus memilih yang terbaik, untuk kemudian menghasilkan yang terbaik dari  dalam tubuh.



Rabu, 12 Januari 2022

MULAILAH DARI DIRI SENDIRI

        Sebuah kisah, tentang seorang Ibu yang sangat gemas dengan anaknya karena susah sekali dibilangin untuk berhenti makan permen. Walau sudah dilarang berkali-kali tetap saja sang anak memakan permen. Ibunya marah sekalipun sang anak tetap melakukannya dengan cara mengumpat-ngumpat. Sang Ibu sampai kehabisan akal bagaimana cara menasehati anaknya agar dia berhenti makan permen, karena akibat dari makan permen bisa membuat gigi tidak sehat. Sang anak tetap tidak paham saat dilarang dan tetap melakukan kebiasaannya yaitu memakan permen. Akhirnya sang Ibu terpikir untuk membawa sang anak kepada orang bijak semoga bisa mendapat nasehat darinya dan anaknya mau berhenti memakan permen.

        Sang Ibu dan anak datang kepada orang bijak, sang Ibu menyampaikan maksud dan tujuannya kemudian sang bijak berkata “Baik Ibu, terima kasih. Untuk saat ini saya dengarkan tujuan dan maksud Ibu dan saya minta Ibu untuk pulang, silakan datang lagi dua minggu yang akan datang”. Sang Ibu terheran-heran dan berkata “Pak, saya sudah terlalu jauh untuk sampai ke tempat bapak, kemudian bapak suruh untuk pulang dan kembali lagi dua minggu yang akan datang, kenapa tidak hari ini saja pak?”. Sang bijak menjawab “Maaf bu, untuk hari ini saya belum bisa, tetapi saya sudah mendengarkan keluhan Ibu, silakan datang kembali dua minggu yang akan datang”. Tidak ada pilihan lain bagi si Ibu, akhirnya mereka pulang dengan hati yang penasaran, tetapi sang Ibu tetap berharap semoga nasehat dari sang bijak bisa menghentikan kebiasaan anaknya memakan permen.

        Setelah dua minggu, sang Ibu dan anak datang lagi, tanpa banyak bicara, sang Ibu menunggu di ruang tengah dan anaknya memasuki ruang sebelahnya. Sang anak kemudian diajak bicara dan tanpa waktu yang lama, si anak kemudian keluar dan mereka dipersilakan untuk pulang kerumahnya. Apa yang terjadi setelahnya, ternyata sampai di rumah, anak tersebut betul-betul berhenti memakan permen. Ternyata kebiasaan yang selama ini sangat sulit dihentikan, betul-betul berhenti, sangat efektif sekali. Sang Ibu penasaran, kira-kira apa rahasianya, apa yang disampaikan oleh sang bijak kepada anaknya, dan mengapa harus menunggu selama dua minggu. Karena penasaran, Ibu tersebut akhirnya datang dan secara khusus bertanya kepada sang bijak. Sang bijak menjawab “Bu, sebenarnya saya hanya melakukan hal yang biasa saja, kenapa harus menunggu dua minggu, karena dua minggu sebelumnya, saya terus terang saja, masih memiliki kebiasaan memakan permen. Saya berpikir, tidak mungkin saya menasehati orang, tetapi saya juga masih melakukan. Saya butuh waktu dua minggu untuk menghentikan kebiasaan saya memakan permen dan Alhamdulillah saya mampu menghentikannya. Setelah saya berhenti dari kebiasaan memakan permen, maka apa yang saya sampaikan kepada anak ibu akan masuk dengan mudah. Apa yang saya sampaikan dari hati akan masuk ke dalam hati.” Sederhana saja, apabila kita ingin menasehati orang, selalu awali dari perilaku kita sendiri.




Jumat, 07 Januari 2022

MENGHINDARI KESOMBONGAN

Sebuah cerita di hutan yang sangat menyeramkan, ada singa yang mengaku dirinya sebagai raja hutan dan berkuasa atas dirinya. Semua binatang yang ada di hutan takut kepada singa. Singa mengatakan “akulah yang menguasai hutan ini”, singa begitu angkuh dan sombong. Sesuatu hal tak terduga terjadi pada suatu hari, singa terperangkap oleh pemburu, ia masuk ke dalam perangkap yang terbuat dari tali-tali yang begitu sempit antara satu dengan yang lainnya. Sehingga ia tidak bisa mengeluarkan sedikitpun kepalanya, ia hanya bisa mengeluarkan kakinya. Ia berusaha keras untuk memutus talinya dengan gigi taringnya yang tajam, tetapi hasilnya sia-sia. Semakin dia berusaha, semakin ia kehabisan tenaga, dan ia terkulai lemas. Disaat seperti itu ia merasa bahwa kesombongannya selama ini tidak memiliki arti dan manfaat untuk dirinya pada saat kondisinya yang sedang lemah dan butuh bantuan. Ia terkulai lemah dan tiba-tiba datang seekor tikus kecil menghampiri singa.

“Wahai singa, kau adalah raja hutan, apa yang sedang kau lakukan disini?”, singa begitu malu dengan keadaan dirinya, ia berkata pada tikus “tikus aku terperangkap dalam jerat pemburu ini, dan aku tak kuasa keluar dari perangkap ini”. Tikus berkata “singa, bukankah kamu memiliki kekuatan yang sangat hebat di hutan ini, dimana kekuatanmu itu”. Singa pun menjawab “tikus, pada saat ini aku baru menyadari bahwa kekuatanku selama ini terbatas”, mendengar jawaban singa, tikus merasa iba dan menawarkan bantuan “singa, maukah kamu saya bantu?”, kemudian sang singa dengan penuh keheranan “bagaimana mungkin kamu bisa membantuku? Sementara aku yang lebih kuat darimu saja tidak bisa keluar dari perangkap ini”. Kemudian sang tikus melakukan aksinya, pelan-pelan tikus menggigiti jaring-jaring perangkap, dan satu demi satu jaring itu terputus sampai akhirnya singa bisa keluar dari perangkap. Disitulah singa berkata “wahai tikus, aku tidak menyangka, hewan sekecil kamu ternyata bisa melakukan apa yang aku tidak bisa lakukan”

Demikianlah dalam kehidupan, bagaimanapun hebatnya, kuatnya, dan pintarnya kita, namun kita tetap memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kita tidak perlu sombong, dan tidak harus sombong. Orang yang kita lihat lemah, tidak berdaya, pada sisi lain ia memiliki kekuatan yang jauh lebih hebat dari kita. Boleh jadi banyak orang yang kita anggap lemah selama ini. Ternyata jauh lebih hebat dari diri kita yang sebenarnya. Mari kita hilangkan kesombongan dari diri kita, karena kesombongan itu bukan milik manusia, kesombongan hanya milik Allah SWT.



Selasa, 04 Januari 2022

HATI YANG DAMAI

Ada seseorang yang merasa dirinya terus-menerus dipenuhi dengan cobaan dan musibah, tidak berhenti-berhenti musibah datang kepadanya, dia merasa hidupnya tidak pernah bahagia. Ia datang kepada salah seorang bijak, ia mengeluhkan apa yang selama ini ia rasakan, dan meminta agar mendapatkan nasehat agar dirinya menjadi tenang. Kemudian sang bijak memberinya satu cangkir yang berisi air, dan memintanya untuk menaburkan serbuk kopi, taburan kopi ditambahkan kemudian sang bijak meminta untuk menambahkannya lagi sehingga taburan kopi menjadi pekat. Setelah itu diaduklah taburan kopi dalam cangkir, dan orang tersebut diminta untuk meminumnya. “apa yang kamu rasakan?” tanya sang bijak, “oh, airnya sangat pahit” jawab seseorang tersebut. Lalu diajaklah ia ke danau dengan sang bijak. Sesampainya, sang bijak kembali menaburkan serbuk kopi yang cukup banyak, kemudian ia mengaduknya lalu mengambil air dengan cangkir, dan meminta orang tersebut untuk minum. Kemudian ia bertanya “bagaimana rasanya?”. Air yang ia minum dari cangkir terasa pahit, sementara air yang ia minum dari danau terasa segar.

Itulah perumpamaan saat kita menerima ujian dan cobaan. Ujian dan cobaan ibarat serbuk kopi yang terus-menerus dituangkan kedalam wadah yang kita miliki. Wadah itu adalah hati kita, kalau hati kita hanya memiliki keluasan seperti cangkir, maka air yang ada di dalamnya terasa pahit, karena air tersebut akan penuh dengan kopi. Sementara air yang di danau terasa lebih segar, karena air yang di danau sangat banyak, sehingga ujian dan cobaan menjadi tidak terasa. Demikian kepada diri kita, apabila hati kita sempit, maka cobaan dan ujian akan sangat terasa menghantui. Namun sebaliknya, bila hati kita laksana seluas danau, maka seberapa banyakpun serbuk kopi yang ditaburkan, air yang ada di danau tetap terasa segar, karena masalah-masalah menjadi terurai. Serbuk kopi tadi terurai oleh banyaknya air. Bagaimanapun ujian dan cobaan yang menghampiri kita, apabila hati kita luas, maka ujian dan cobaan tidak akan terasa pahit. Sebaliknya, kalau hati kita sempit seperti cangkir, walau hanya sedikit ujian, musibah dan cobaan akan sangat terasa pahit. Luaskan hati kita, maka ujian dan cobaan tidak akan membuat pahit hidup ini.



MEMBIASAKAN ANAK MEMINTA MAAF

BAGAIMANA CARA UNTUK MEMBIASASKAN ANAK UNTUK MEMINTA MAAF? 1. Biarkan emosi anak mereda Anak biasanya marah, kecewa, tidak suka dengan suatu...