Rabu, 12 Januari 2022

MULAILAH DARI DIRI SENDIRI

        Sebuah kisah, tentang seorang Ibu yang sangat gemas dengan anaknya karena susah sekali dibilangin untuk berhenti makan permen. Walau sudah dilarang berkali-kali tetap saja sang anak memakan permen. Ibunya marah sekalipun sang anak tetap melakukannya dengan cara mengumpat-ngumpat. Sang Ibu sampai kehabisan akal bagaimana cara menasehati anaknya agar dia berhenti makan permen, karena akibat dari makan permen bisa membuat gigi tidak sehat. Sang anak tetap tidak paham saat dilarang dan tetap melakukan kebiasaannya yaitu memakan permen. Akhirnya sang Ibu terpikir untuk membawa sang anak kepada orang bijak semoga bisa mendapat nasehat darinya dan anaknya mau berhenti memakan permen.

        Sang Ibu dan anak datang kepada orang bijak, sang Ibu menyampaikan maksud dan tujuannya kemudian sang bijak berkata “Baik Ibu, terima kasih. Untuk saat ini saya dengarkan tujuan dan maksud Ibu dan saya minta Ibu untuk pulang, silakan datang lagi dua minggu yang akan datang”. Sang Ibu terheran-heran dan berkata “Pak, saya sudah terlalu jauh untuk sampai ke tempat bapak, kemudian bapak suruh untuk pulang dan kembali lagi dua minggu yang akan datang, kenapa tidak hari ini saja pak?”. Sang bijak menjawab “Maaf bu, untuk hari ini saya belum bisa, tetapi saya sudah mendengarkan keluhan Ibu, silakan datang kembali dua minggu yang akan datang”. Tidak ada pilihan lain bagi si Ibu, akhirnya mereka pulang dengan hati yang penasaran, tetapi sang Ibu tetap berharap semoga nasehat dari sang bijak bisa menghentikan kebiasaan anaknya memakan permen.

        Setelah dua minggu, sang Ibu dan anak datang lagi, tanpa banyak bicara, sang Ibu menunggu di ruang tengah dan anaknya memasuki ruang sebelahnya. Sang anak kemudian diajak bicara dan tanpa waktu yang lama, si anak kemudian keluar dan mereka dipersilakan untuk pulang kerumahnya. Apa yang terjadi setelahnya, ternyata sampai di rumah, anak tersebut betul-betul berhenti memakan permen. Ternyata kebiasaan yang selama ini sangat sulit dihentikan, betul-betul berhenti, sangat efektif sekali. Sang Ibu penasaran, kira-kira apa rahasianya, apa yang disampaikan oleh sang bijak kepada anaknya, dan mengapa harus menunggu selama dua minggu. Karena penasaran, Ibu tersebut akhirnya datang dan secara khusus bertanya kepada sang bijak. Sang bijak menjawab “Bu, sebenarnya saya hanya melakukan hal yang biasa saja, kenapa harus menunggu dua minggu, karena dua minggu sebelumnya, saya terus terang saja, masih memiliki kebiasaan memakan permen. Saya berpikir, tidak mungkin saya menasehati orang, tetapi saya juga masih melakukan. Saya butuh waktu dua minggu untuk menghentikan kebiasaan saya memakan permen dan Alhamdulillah saya mampu menghentikannya. Setelah saya berhenti dari kebiasaan memakan permen, maka apa yang saya sampaikan kepada anak ibu akan masuk dengan mudah. Apa yang saya sampaikan dari hati akan masuk ke dalam hati.” Sederhana saja, apabila kita ingin menasehati orang, selalu awali dari perilaku kita sendiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBIASAKAN ANAK MEMINTA MAAF

BAGAIMANA CARA UNTUK MEMBIASASKAN ANAK UNTUK MEMINTA MAAF? 1. Biarkan emosi anak mereda Anak biasanya marah, kecewa, tidak suka dengan suatu...