Sabtu, 26 Februari 2022

IKHTIAR.

        Pernahkah dalam suatu kejadian kita merasa bahwa kita sudah bekerja keras, sudah berusaha mati-matian tetapi ternyata hasilnya tidak maksimal. Sementara orang lain yang kita lihat bekerja biasa-biasa saja, tidak seperti kita yang bekerja keras, namun mereka mendapatkan hasil yang lebih baik dari kita. pernahkah di suatu kantor, kita bekerja mati-matian tetapi yang mendapatkan kenaikan gaji adalah rekan kerja kita, padahal ia tidak bekerja keras seperti apa yang kita lakukan. Hal-hal tersebut mungkin pernah kita alami, hal tersebut membuat kita tidak mendapatkan keadilan, mungkin hal tersebut membuat kita bertanya-tanya, apakah Allah tidak memberi keadilan kepada umatnya. Tentu tidak seperti yang kita pikirkan, Tuhan maha adil, tidak mungkin mengingkari janjinya, sudah jelas Tuhan mengatakan bahwa siapa yang bekerja keras dia akan mendapatkan hasil. Lalu mengapa peristiwa semacam diatas tadi sering terjadi? Rahasianya adalah, semua akan sampai pada waktunya.

        Kerja keras yang sudah kita lakukan sesungguhnya memberikan hasil, hanya hasilnya saja akan sampai pada waktu yang tepat untuk mendatangi  kita. Mungkin kita memiliki hitungan bahwa hasil tersebut akan datang sebulan yang akan datang, tetapi mungkin tiga bulan atau lima bulan yang akan datang, atau bahkan satu minggu yang akan datang, karena Tuhan tahu waktu yang tepat untuk hamba-Nya. Hitung-hitungan kita tentu sangat terbatas, karena pemikiran dan pengetahuan kita sangat terbatas, semenatra hitung-hitungan dan pengetahuan Allah sangat lengkap dan sempurna dan Ia Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Jadi, teruslah berusaha semaksimal mungkin dan rizkimu nanti akan datang mengikutimu, rizkimu tidak akan pernah tertukar, Ia sudah ditakar sesuai kadar ikhtiar. Mari maksimalkan ikhtiar, selanjutnya berserah pada Dzat Qadha dan Qadar.




Selasa, 22 Februari 2022

BERBUAT KEBAIKAN.

        Seorang anak dan ayah yang sedang berjalan di suatu tempat yang bergema, mereka berjalan beriringan sambil berbincang-bincang. Di tengah jalan tiba-tiba si anak terpeleset dan jatuh kemudian berteriak “Aaaaa!!!” Ia kesakitan. Karena tempat tersebut bergema, diujung sebelah sana suara teriakan sang anak memantul dengan bunyi yang sama “Aaaaa!!!”. Di tengah kesakitan ia merasa ada orang yang menertawakan, ia marah seraya berkata “Hey!! Kamu tau gak sih, saya sedang kesakitan” namun karena itu adalah gema, amarah si anak kembali memantul “Hey!! Kamu tau gak sih, saya sedang kesakitan” si anak semakin marah, ia berpikir orang di ujung sana itu terus menerus menertawakannya dan meledeknya, padahal ia sedang terkena musibah. Sang ayah berusaha menenangkan anaknya “Nak.. sabar ya.. tenang nak..” tetapi si anak sudah kadung, kecewa, dan marah “Ayah ini bagaimana, saya kan diledekin kenapa saya tidak boleh marah”, sang ayah berkata “Nak, sabar ya.. ayah akan jelaskan. Tenang dulu ya nak, ikuti ayah sekarang.” Sang anak seperti tidak ikhlas dengan perkataan ayahnya “Nak sekarang ikuti kata-kata ayah, kamu katakan yang keras padanya kamu hebat!” “Apa ayah? Dia dibilang hebat?! Ayah kan tahu, dia udah meledeki aku” sang ayah Kembali mencoba menenangkan anaknya dan membujuknya untuk mengikuti perintahnya. Kemudian dengan perasaan terpaksa si anak berteriak “Kamu hebat!!”. Secara mengejutkan, suara tadi memantul dengan bunyi yang sama “Kamu hebattt!!” daan si anak pun berubah, tadi dia merasa marah sekarang dia merasa dipuji oleh orang yang di sebelah sana. “Nak, sekarang kamu katakan padanya kamu keren!” perintah ayahnya, si anak langsung mengikutinya “Kamu kerenn!!” dan lagi lagi, terucap dari ujung sebelah sana suara yang sama kepada sang anak. Wajah anak yang sedari tadi marah, seketika berubah perlahan-lahan menjadi penuh dengan kesenangan. Anak ini tidak lagi marah namun anak merasa senang dan bahagia.

        Inilah kehidupan, apa yang kau tebar, apa yang kau berikan kepada sekitarmu itulah yang kelak akan kau terima. Jika kamu menebarkan kebaikan, maka kebaikan itulah yang akan kamu terima, tetapi jika kamu menebarkan keburukan maka itu juga yang akan kamu terima dan rasakan. Jadi, tetaplah berbuat baik, tetaplah menebar kebaikan karena itu sesungguhnya yang akan kita dapatkan. Tebarlah kebaikan sebanyak mungkin, karena sebanyak itu pula yang akan kita dapatkan. Hindari menebar kebaikan, karena keburukan itu juga yang akan kita terima nantinya. Tuhan Maha Baik, dengan kebaikanNya ia menjanjikan kepada umatNya, bahwa setiap kebaikan pahalanya akan dilipatgandakan, jadi jangan pernah bosan untuk berbuat kebaikan, setiap kebaikan sesungguhnya akan Kembali pada diri kita, bahkan akan dilipat gandakan oleh Sang Maha Kuasa.




Jumat, 18 Februari 2022

OPTIMISME.

        Jendral Thariq bin Ziyad, beliau adalah jenderal yang dikirim dari tanah Afrika untuk membuka wilayah Andalusia di Spanyol. Saat ingin memasuki Andalusia, terdapat pegunungan tinggi yang disebut sebagai Jabal Thariq. Thariq bin Ziyad memerintahkan kepada pasukannya untuk membakar perahu-perahu yang membawa mereka dari Afrika menuju ke Spanyol. Mengapa Thariq membakar perahu tersebut, padahal perahu tersebut diperlukan untuk menyeberangi lautan bila mengalami kekalahan. Inilah trik yang dipakai oleh Jendral Thariq bin Ziyad. Ia kemudian mengumpulkan pasukannya dan memberikan statement yang luar biasa, “wahai asukanku, musuh ada di depanmu dan lautan ada dibelakangmu, kemana kalian akan pergi sembunyi?”. Hal tersebut dilakukan Thariq untuk membuat pasukannya semangat, sekaligus menumbuhkan optimisme untuk memenangkan peperangan. Optimisme menjadi salah satu faktor yang penting dalam sebuah kompetisi. Prajurit yang tidak memiliki jiwa optimisme, akan menjadi prajurit yang lemah secara mental. Thariq bin Ziyad mampu memberikan optimisme yang tinggi kepada pasukannya.

       Sejarah mencatat, bahwa Thariq bin Ziyad adalah Jendral yang perkasa, yang mampu menaklukkan daratan Eropa, padahal jumlah pasukaannya sangatlah terbatas. Pasukan Thariq menjadi bergairah karena semangat yang dipompa oleh sang jendral, itulah yang harus kita teladani. Dalam melakukan apapun, semangat dan optimisme harus senantiasa muncul dalam diri kita. Optimisme adalah keyakinan dalam hal baik yang akan terjadi dimasa yang akan datang, apabila kita berjuang keras untuk meraihnya. Optimism harus selalu hadir dalam diri kita. keyakinan positif bahwa kita mampu mencapai sesuatu, sesungguhnya adalah energi dan semangat yang dapat menggerakkan kita untuk memiliki tenaga yang penuh demi mencapai cita-cita yang kita harapkan. Optimism yang dimiliki oleh seseorang, ibarat ruh yang membuat hidup menjadi lebih hidup. Orang yang tidak memiliki optimism akan cepat layu, sementara orang yang memiliki optimism hidupnya akan lebih bersemangat dan ia bisa menggapai cita-citanya. Orang yang optimis, terlihat dari raut mukanya, senyum, semangat, penuh dengan gairah, sementara orang pesimis terlihat layu, kusut, dan tidak menyenangkan.


Rabu, 16 Februari 2022

BEKERJA KERAS.

        Sebuah kepompong yang ingin berubah menjadi kupu-kupu, terlihat sulit sekali saat kupu-kupu ingin keluar dari kulit kepompong. Seorang anak kecil melihatnya dengan perasaan kasihan, lalu ia memiliki inisiatif untuk membantunya. Ia mengambil gunting untuk merobek kulit kepompong sehingga kupu-kupu bisa keluar. Ia pikir apa yang dilakukannya dapat membantu kupu-kupu untuk keluar tanpa mengalami kesakitan, ternyata kupu-kupu justru tidak bisa terbang, sayap-sayapnya tidak bisa terbang. Usaha yang dilakukan kupu-kupu keluar dari cangkangnya itu justru untuk memompa darah-arahnya agar tersebar ke seluruh jaringan sayap dan kakinya, dan itu yang dilakukan oleh sang anak yaitu memotong cangkang kupu-kupu.

        Jadi, kesulitan dan kesakitan yang dialami oleh kupu-kupu ternyata didesain agar ia bisa menjadi seekor kupu-kupu yang sempurna dan indah. Perilaku menggunting kepompong membuat kupu-kupu menjadi lumpuh dan tak berdaya. Demikian pada diri kita, kesulitan yang kita rasakan dalam kehidupan kita, sesungguhnya adalah proses menuju kebaikan yang akan kita rasakan di masa yang akan datang. Kita harus mengalami proses tersebut, karena tidak ada kesuksesan yang instan, kesuksesan harus melalui sebuah proses yang panjang, itu adalah sebuah hukum alam yang harus dilalui oleh semua orang. Jangan mau menjadi sukses yang instan dan karbitan, karena sukses yang karbitan akan cepat rusak, membusuk dan usang. Menjalani proses, menjalani fase bekerja keras, disitulah terdapat kesusahan, itulah jalan yang memang harus ditempuh untuk mencapai kesuksesan. Tidak ada kenikmatan kecuali setelah berpayah-payahan. Bekerja keraslah, maka hasil kerja kerasmu akan mendatangimu, ia tidak akan salah alamat, dia akan datang pada waktu yang tepat untukmu.



Jumat, 11 Februari 2022

SAHABAT.

Petuah bijak berbunyi “Apabila engkau ingin tahu tentang seseorang, jangan tanyakan pada orang yang bersangkutan, tapi tanyalah siapa sahabat-sahabatnya”. Petuah tersebut memberikan gambaran kepada kita, bahwa perilaku kita, sikap kita, tingkah laku kita, diantaranya dipengaruhi oleh sahabat-sahabat yang mengelilingi kita. Kita harus pandai memilih siapa yang bisa dijadikan sebagai sahabat, karena dia akan mengajak kita kepada jalan kebaikan atau jalan keburukan. Bersahabat dengan tukang parfum, kita akan ikut wanginya, bersahabat dengan tukang sampah kita akan kebawa baunya. Tentu kita bisa mengambil pelajaran, bahwa sahabat adalah salah satu penentu arah kehidupan kita. Persahabatan tentu tidak selamanya berlangsung baik, ada kalanya terjadi gesekan. Namun, itu tidak harus memutuskan persahabatan, karena apabila gesekan memutuskan tali persahabatan, kita tidak akan pernah memiliki sahabat, karena semua orang memiliki kekurangan, tidak ada orang yang sempurna, juga diri kita yang memiliki banyak kekurangan.

Sahabat sesungguhnya untuk saling menguatkan, saling berbagi kebaikan, saling mengajak kepada kebaikan. Sahabat itu relasi, relasi adalah rezeki. Apabila relasi kita semakin kuat maka rezeki kita semakin banyak. Memutuskan satu relasi, memutuskan satu jalan rezeki. Perbanyaklah relasi agar kita banyak rezeki. Satu musuh kebanyakan, namun seribu sahabat masih terbilang kurang. Jadi, mari perbanyak sahabat kita, mari jaga persahabatan kita, karena itu merupakan jalan rezeki kita.



Selasa, 08 Februari 2022

MENEBAR KEBAIKAN.

        Dewasa ini kita sering kita sering disuguhi oleh tayangan dan berita yang menunjukkan ujaran kebencian, fitnah dan permusuhan. Di berbagai media sosial sering kita jumpai tulisan-tulisan fitnah serta ujaran kebencian. Tentu hal tersebut tidak baik, untuk diri kita dan untuk masyarakat. Siapakah yang memberikan suguhan-suguhan buruk seperti itu? Tentu orang yang tidak bertanggung jawab. Dia mencari keuntungan di tengah-tengah perpecahan yang terjadi atas ulahnya.

        Sebagai masyarakat, apakah kita mau dibawa kepada perpecahan yang merugikan? Tentu tidak. Karena itu, kita jangan pernah mau diadu domba oleh ujaran-ujaran kebencian, hoaks, fitnah, yang sebetulnya tidak benar. Bahkan, ujaran kebencian itu sengaja dimunculkan oleh pelaku, agar dia mendapatkan keuntungan. Kita sebagai masyarakat harus pintar dalam menyeleksi informasi yang relevan dan informasi yang menyesatkan. Yang harus kita lakukan adalah jangan pernah diikuti, jangan pernah dikomentari, semakin kia mengomentari sesungguhnya semakin membuat ratingnya naik tinggi dan itulah yang diharapkan oleh pelaku. Tinggalkan, mari kita membuat informasi-informasi yang positif agar media sosial kita juga terisi dengan hal-hal yang baik, agar media sosial kita tidak hanya dipenuhi dengan ujaran kebencian, namun juga diisi dengan kebaikan-kebaikan.

        Diri kita ini ibarat poci (teko), apa yang keluar dari sebuah poci adalah apa yang ada dalam poci tersebut. Kalau diri ini terlalu sering diisi oleh ujaran-ujaran kebencian, terlalu sering dipaparkan dengan hoaks, kebencian, maka yang kita keluarkan adalah yang demikian. Karena itu yang harus kita lakukan adalah mari kita isi diri kita dengan hal-hal positif dan penuh kedamaian, karena itu yang akan kita keluarkan untuk orang-orang disekitar kita. apa yang ada di dalam diri itulah yang akan kita tebarkan untuk orang-orang disekitar kita. Isilah diri dengan beragam kedamaian, maka diri, lingkungan dan masyarakat kita akan merasakan kedamaian dari diri kita.



Jumat, 04 Februari 2022

KEBAHAGIAN YANG HAKIKI

        Pada suatu hari, Abu Nawas sibuk mencari sesuatu di luar rumahnya, Seorang tetangga lewat di depan rumahnya lalu bertanya "Hai Abu Nawas apa yang sedang kamu lakukan?". Abu Nawas menjawab "Aku sedang mencari jarum yang terjatuh". Sang tetangga kembali bertanya "Memangnya terjatuh di mana jarum itu?". “Tadi jatuhnya di dalam rumah" Jawab Abu Nawas. Sang tetangga terheran "Lalu kenapa kamu mencarinya di luar rumah?”. Abu Nawas menjawab sambil tertawa "Hehehe karena di luar terang sementara di dalam gelap, jadi saya mencari di luar saja”.

        Cerita di atas merupakan anekdot yang lucu, namun terkadang kita juga tidak sadar melakukan hal yang sama seperti Abu Nawas. Sederhana saja, misalnya kita mencari-cari kebahagiaan, kita mencarinya namun tidak kunjung kita dapatkan, Kenapa? karena kita mencarinya di luar rumah, padahal kebahagiaan itu ada di dalam rumah. Jadi kita salah tempat dalam mencarinya, maksudnya, kebahagiaan yang kita cari di luar rumah kebahagiaan semu. Misalnya, jabatan yang kita dapat di luar rumah hanyalah kebahagiaan semu, karena jabatan itu nanti ada masanya dan akan berganti. Contoh lain misalnya, kita ingin menjadi kaya raya itu hanyalah kebahagiaan semu, karena harta itu pada akhirnya akan habis dan tidak akan menjadi kebahagiaan yang hakiki. Andai kita semua menyukai makanan yang paling lezat, misalnya sate kambing, gulai kambing, mungkin di awal-awal kita akan sangat menyukai, namun apabila kita makan secara terus-menerus maka akan merasakan kebosanan. Demikian kembali kepada analogi yang sebelumnya, bahwa kebahagiaan yang kita cari di luar diri kita adalah kebahagiaan semu. Lalu, dimana sesungguhnya letak kebahagiaan hakiki itu. Kebahagiaan hakiki itu, kebahagiaan itu ada di dalam diri kita yaitu senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan karunia Ilahi.

        Terkadang kita tidak sadar bahwa Tuhan sudah memberikan begitu banyak nikmat pada diri kita, namun nikmat itu tertutup oleh pikiran kita. Kita sibuk untuk mencari apa yang tidak ada di dalam diri kita, sehingga kita tidak sadar dan melupakan atas segala nikmat yang telah berikan kepada kita. Seperti anekdot Abu Nawas di atas, Di dalam diri kita ibarat rumah yang telah diberikan nikmat oleh Allah, namun gelap dan tertutup sehingga kita mencari kebahagiaan di luar rumah. Seperti Abu Nawas tadi, Ia mencari jarum di luar rumah padahal jarum terjatuh di dalam rumah, Kita mencari kebahagiaan di luar, padahal kebahagiaan itu ada di dalam diri kita. Mari kita lihat kembali, mari kita evaluasi sudahkah kita mensyukuri nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Karena dengan bersyukur disitu letak kebahagiaan yang Hakiki. Berhentilah mencari-cari sesuatu yang semu, mari kita memulai kembali, menggali apa yang ada di dalam diri kita, sehingga kita semakin bersyukur.




Selasa, 01 Februari 2022

EMOTIONAL BONDING

        Di masa sulit seperti ini pemerintah sering menggaungkan yang disebut sebagai social distancing, yaitu menjaga jarak antara satu dengan yang lain agar virus corona tidak menular. Hal ini sepertinya membuat kita terbawa agar selalu menjaga jarak dengan siapapun, jangan sampai perintah untuk menjaga jarak akhirnya berdampak kepada jara emosional diantara kita. Harus sama-sama kita perbaiki, jarak oleh berjauhan tetapi hati arus selalu tetap berdekatan. Karena itu kita tidak hanya cukup melakukan social distancing tetapi juga harus melakukan emotional bonding. Ikatan emosional diantara kita juga harus dibangun, disaat banyak orang-orang yang terkena PHK, tidak lagi memiliki pekerjaan, tidak lagi memiliki penghasilan, mereka tentu membutuhkan uluran tangan dan bantuan dari kita, kita tentu perlu meLakukan pendekatan emosional atau emotional bonding. Karena itu social distancing harus dibarengi dengan emotional bonding. Pada masa ini adalah sebuah momentum yang tepat bagi kita untuk melatih dan meningkatkan emotional bonding kita.

               Emotional bonding ini sesungguhnya sering dan banyak sekali kita dapati dalam ayat-ayat Al-quran dan Hadits Nabi. Tentu kita diperintaHkan tidak hanya untuk memperbaiki diri kita saja, untuk peduli kepada diri kita saja, tetapi kita harus peduli dengan orang-orang di sekitar kita juga. Dimana pada situasi sekarang ini mereka membutuhkan uluran tangan dan bantuan kita. Mari kita Bersama-sama tidak hanya fokus kepada social distancing tetapi juga diikuti dengan emotional bonding. Menjaga jarak tetapi hati tetap berdekatan. Sebagaimana yang Allah sampaikan dalam ayat al-quran dan sebagaimana yang Nabi sampaikan dalam Hadits, bahwa musim yang baik adalah muslim yang peduli kepada sesamanya dan sekitarnya. Orang yang baik adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi sekitar.


MEMBIASAKAN ANAK MEMINTA MAAF

BAGAIMANA CARA UNTUK MEMBIASASKAN ANAK UNTUK MEMINTA MAAF? 1. Biarkan emosi anak mereda Anak biasanya marah, kecewa, tidak suka dengan suatu...