Minggu, 28 November 2021

SERTAKAN ALLAH DALAM SETIAP PIKIRAN DAN TINDAKAN KITA.

                 Pernahkah kita memiliki perasaan bahwa aku ingin sekali mendapatkan sesuatu yang menurut kita sangat baik, sangat menyenangkan dan bisa memberikan kentungan. Kita berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, kita bekerja keras dan bahkan meminta bantuan teman untuk bisa mencapainya. Padahal sesungguhnya hal tersebut justru mendatangkan keburukan untuk kita. Contohnya, dalam masa pemilu misalnya, ada orang yang berusaha mati-matian agar dapat terpilih menjadi wakil rakyat, terpilih menjadi pejabat, namun dalam perjalanannya ternyata jabatan tersebut menghantarkannya kepada perilaku korupsi yang akhirnya ia di penjara. Pada awalnya ia melihat jabatan tersebut sangat indah, padahal  sesungguhnya itu merupakan jalan untuk kehancuran dan kebinasaan dirinya, yang tentunya berimbas kepada keluarganya. Inilah keterbatasan kita sebagai manusia. Kita diperintahkan oleh Allah SWT agar berhati-hati dalam melakukan sesuatu, di dalam Al-Quran surat Al baqarah ayat 216 yang bermakna “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu, sungguh Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

                Kehidupan ini sungguh banyak rahasia-rahasia, kita tidak tahu apa rahasia yang akan terjadi di masa depan dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Dalam menjalankan sesuatu, kita harus senantiasa tidak hanya mengandalkan pikiran diri sendiri, tidak hanya mengandalkan kalkulasi perhitungan kita, tetapi juga harus menyertakan Allah dengan berharap dan memohon agar apa yang kita lakukan ini menjadi kebaikan untuk diri kita dan orang di sekitar kita.

Masih ingatkah cerita Nabi Musa? Pada saat beliau lahir ke dunia ini, zaman sedang kacau balau. Firaun saat itu memerintahkan kepada seluruh pasukannya agar mencari bayi-bayi yang baru lahir dan bayi yang berjenis kelamin laki-laki harus dibunuh. Saat itu bayi Musa terlahir di dunia, bagaimana perasaan ibu Musa pada saat itu, sangat bimbang dan terpukul, apabila bayinya diketahui oleh pasukan firaun akan di bunuh. Allah memerintahkan ibu Nabi Musa untuk menghanyutkan Musa kecil ke sungai. Perintah Allah untuk menghanyutkan bayi itu sungguh diluar nalar seorang ibu, bagaimana mungkin bayi kecil yang belum bisa melakukan apapun dihanyutkan ke sungai. Perintah Allah pastinya tidak main-main, di hanyutkanlah bayi Musa oleh ibundanya karena ia yakin boleh jadi pikirannya buruk, namun Allah sudah menyiapkan kebaikan-kebaikan di dalamnya.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran, bahwa dalam menjalani hidup ini kita harus senantiasa berhati-hati. Apa yang kita anggap baik, belum tentu baik dan sebaliknya apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk, hanya Allah yang Maha Tau. Karenanya kita harus selalu sertakan Allah dalam pertimbangan tindakan kita, agar senantiasa kita mendapat petunjuk untuk mencapai jalan yang benar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBIASAKAN ANAK MEMINTA MAAF

BAGAIMANA CARA UNTUK MEMBIASASKAN ANAK UNTUK MEMINTA MAAF? 1. Biarkan emosi anak mereda Anak biasanya marah, kecewa, tidak suka dengan suatu...