Apa yang kita miliki itulah yang bisa kita berikan untuk sekitar kita. seandainya diri kita ini kosong, tidak memiliki apapun, maka apa yang kita akan berikan kepada sekitar. Apabila kita ingin memberi sesuatu maka, diri ini, jiwa ini, pikiran ini harus diisi, agar ada sesuatu output dari dalam diri kita yang bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Kalau diri kita ini diisi dengan hal-hal yang baik, maka yang akan kita keluarkan adalah hal yang baik pula. Seandainya diri ini diisi dengan hal-hal yang negatif tentu tidak mungkin kita bisa mengeluarkan hal-hal yang positif, karena isi yang ada dalam diri kita ini adalah negatif.
Cerita di atas seperti filosofi dari sebuah teko. Teko itu apabila kita isi dengan air the, dia bisa mengeluarkan air teh. Tidak mungkin kita bisa untuk dituangkan air susu seandainya isi dari teko tersebut adalah air teh. Apabila kita ingin minuman yang sehat namun ternyata yang di dalam teko itu isinya minuman yang berbahaya, maka itulah yang akan dikeluarkan dari si teko. Jadi, diri kita ini, pikiran kita ini sebetulnya ibarat sebuah teko, kalau kita isi dengan kebaikan, dengan hal positif, maka itu pula yang bisa keluarkan untuk kehidupan kita, untuk orang-orang disekitar kita. Namun apabila kita terbiasa mengisi diri dengan hal-hal yang negatif, maka itu pula yang akan kita berikan kepada orang disekitar kita.
Langkah selanjutnya adalah, kita harus cerdas dalam memilih asupan yang akan kita masukan ke dalam diri kita, ke dalam otak kita, kedalam hati kita. Saat ini begitu banyak berita-berita yang belum terbukti kebenarannya, atau bahkan berisi ujaran kebencian atau yang lebih parah lagi adalah fitnah-fitnah atau hoaks, itu sangat banyak kita jumpai di berbagai media sosial. Kalau kita tidak pandai dalam memilih mana yang pantas untuk kita serap, maka kita tidak sadar bahwa kita sedang mengisi diri kita, mengisi otak kita, mengisi hati kita dengan berita-berita bohong, hoaks, ujaran kebencian dan sebagainya. Pada akhirnya kita akan mengeluarkan hal yang negatif tersebut di dalam media sosial kita, termasuk juga dalam kehidupan sehari-hari kita.
Berhati-hatilah jangan sampai kita menerima asupan-asupan yang negatif, karena itu akan membahayakan bagi diri kita, dan orang disekitar kita. Sungguh filosofi dari teko ini sangat penting untuk kita hayati dan amalkan. Belajar dari teko, ia hanya mengeluarkan apa yang ada dalam dirinya, bila diri kita dipenuhi dengan kebencian, maka itu pula yang bisa kita berikan. Bila diri ini dipenuhi dengan kedamaian, maka kita bisa menebarkan kedamaian. Belajar dari teko, benda yang ada disekitar kita namun memiliki hikmah yang luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar