Pada suatu malam, ada seekor ular masuk ke dalam ruang kerja seorang tukang kayu. Ruang kerja tersebut berisikan macam-macam peralatan, termasuk diantaranya gergaji. Ular melintasi gergaji tersebut dan secara tidak sengaja tubuhnya tergores dan terluka oleh gergaji. Merasa tubuhnya terluka, ia berpikir bahwa gergaji tersebut adalah musuh yang hendak mencelakainya. Munculah sifat dari ular tersebut ingin membalas dan menyerang gergaji. Ular langsung menggigit gergaji, namun apa yang terjadi, bukannya gergaji itu melemah namun justru memberikan luka pada mulut ular hingga berdarah. Ular semakin marah dan tidak bisa mengendalikan amarahnya, dia pikir bahwa gergaji itu adalah musuh yang harus dikalahkan. Amarah ular semakin meluap, ia menyerang gergaji tersebut dengan melilit gergaji menggunakan seluruh tubuhnya, semakin dililit semakin tubuhnya terluka oleh gergaji, namun amarah yang sudah begitu mengakar di dalam hati ular. Ular lagi lagi mengeratkan lilitan tubuhnya pada gergaji, terus menerus ia lakukan hingga darah ular tersebut berceceran dimana-mana. Lalu apa yang terjadi? Ular tersebut mati, binasa. Keesokan harinya si tukang kayu kembali ke tempat kerjanya dan ia mendapati seekor ular tergeletak dan darah yang sudah mengering.
Kisah sederhana di atas dapat kita ambil pelajarannya, bahwa seandainya pada goresan pertama yang dirasakan oleh ular itu, seandainya ular tidak harus meluapkan amarahnya, seandainya ular tidak langsung bereaksi, maka mungkin ia tidak akan mati sia-sia. Ular tersebut mati karena ia mengikuti amarahnya. Ia merasa bahwa gergaji itu adalah musuh yang harus ia serang. Kalau seandainya ular tersebut bisa memahami bahwa goresan luka yang pertama bukan berasal dari sang musuh, maka kematian bisa ia hindari.
Kadangkala pada saat kita sedang marah, sepertinya kita ingin melukai orang lain. Perkataan kita, perbuatan kita ditumpahkan kepada orang yang kita marahi agar mereka merasakan sakit dari apa yang kita lakukan. Namun pada hakikatnya, amarah yang kita luapkan kepada orang lain justru melukai diri kita sendiri. Berbagai macam kata-kata yang tidak pantas, tidak sopan, Tindakan yang tidak terkontrol yang kita berikan kepada orang lain, justru akhirnya merugikan diri kita sendiri. Sebagaimana ular tadi, amarah yang ia luapkan kepada gergaji, justru menjadi penyebab kematiannya. Amarah itu harus dikendalikan, jangan diperturutkan, semakin kita memperturutkan amarah sesungguhnya semakin merugikan diri kita sendiri. Orang yang bijak mampu mengendalikan amarahnya. Amarah itu bukan untuk diperturutkan, amarah itu untuk dikendalikan. Orang yang baik adalah orang yang mampu mengendalikan amarah. Belajar dari kisah ular, semoga kita bisa terus-menerus memperbaiki diri dan sikap agar kita bisa berdamai dengan diri kita dan orang disekeliling kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar